Search

Reinhart Previano K.

Do you love to Ctrl-K, Ctrl-/, or / ? Now you can do three of them (>_ )!

No results so far...

Blog Posts


2021-10-27 12:54:00

✨ challenge seskam cavis the explorer 2021 ✨

Hey, I'm Shiftine and nice to meet you all. And yes, I'm also on Reinhart's golden coin that you've always wanted on SESKAM CAVIS THE EXPLORER, right? It's almost (or already) Halloween and for this year I'm dressing as the "hero" representing one of the programs preinstalled in Microsoft Windows since the age of 7. And who knows, she made the debut as a sticker and comic book distributed to those who attend Microsoft Ignite in 2017! Oh, now the program is now also available for macOS and Linux users, too! Come on, great programmers always search things on Google (or Microsoft Bing if you would), right? So can you guess which program I now represent? (Just look for the large image on the left or above for reference) Oh yeah, don't forget to printf() the answer to Reinhart's Discord (reinhart1010#3583) or LINE (reinhart1010) account. And make sure that you're answering the right question/challenge given by him - 'cause we're against cheating among groups!

2021-10-23 14:29:53

reinhart1010.id Site Update: (Awesome) Code Previews!
Cover image for reinhart1010.id Site Update: (Awesome) Code Previews!

2021-10-22 12:58:12

✨ challenge seskam cavis the explorer 2021 ✨

Selamat datang di challenge seskam dari kita! Ya, challenge ini bukan dari saya, tapi kita. Soalnya, gw juga bakal ditemani oleh para robot yang setia menemani saat masa-masa sibuk, makanya kita. Plus, di HIMTI jangan lupa bahwa kita One Family One Goal, tepat dengan password yang dipakai untuk ngakses blog post ini. Nah, kalau begini kan (bikin script, mainan CI/CD) gw ga usah pusingin kirimin email satu per satu ke kalian yang udah daftar HISHOT, TECHNO, HIMTI Election, dan bahkan COMPUTERUN. Apalagi pas acara TECHNO 2021 kemarin yang jumlah pesertanya melebihi angka 1000! Nah sedikit promosi kali ya, mereka juga punya akun medsos di IG, Twitter, dan GitHub. Kalau kalian mau follow, sabi banget. Tapi tennang, kalian ga harus follow mereka dulu untuk dapet koin dari gw. Challengenya Challenge dari kita sendiri cukup sederhana, yaitu tebak lagu. Yang udah pasti sih ini lagu cukup terkenal pada masanya, tapi sayangnya lagu ini ga pernah masuk chart lagu paling ngetren baik di Spotify, Apple Music, dan bahkan Billboard 500. Dan satu lagi, soal ini ditulis di dalam bahasa pemrograman C, jadi biar kalian ga kagok saat belajar COMP6047 - Algorithm and Programming nanti. Kodingan C ini nantinya bisa jadi referensi kamu untuk materi File Processing nanti. Bahkan di HIMTI sendiri kita sering pakai bahasa C dan Python untuk bikin script untuk benahin data peserta dan kirim e-certificate, lho! Link program C nya ada di https://awan.reinhart1010.id/nextcloud/index.php/s/midst6g9GbzWsLG, btw. Untuk meminimalisir potensi kecurangan antar kelompok seskam, setiap kelompok wajib untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan link soal yang diberikan di awal. Dan sesuai dengan peraturan Coin Grab SESKAM CAVIS THE EXPLORER, nilai dari koin kita bakal berkurang kalau semakin banyak kelompok yang berhasil nebak dan mendapatkan koin dari kita. Gimana cara jawabnya, kak? Sesuai dengan isi programnya, kalian harus membuat sebuah file teks (misal: lirik.txt atau testdata.in) yang berisi seluruh baris Mars HIMTI dengan aturan berikut: Tiap baris dipisah dengan spasi, bukan dengan newline alias ENTER,Kalian ga usah masukkin simbol apapun (seperti tanda titik atau koma)Kalian juga ga usah mikirin apakah mau nulisnya huruf besar atau kecil. Gampang kan? Kalau sudah nanti tinggal masukkin aja ke programnya, dan kalau benar dia bakal ngeluarin sebuah clue untuk ngejawab soalnya. Kalau sudah yakin nanti langsung aja pc gw via LINE (reinhart1010) atau Discord (reinhart1010#3583), dan jangan lupa buat: Kasih tau nama lagu dan alasannya, laluBukti isi teks file input dan hasil screenshot programnya. Ya sudah, itu aja sih challenge dari gw. Selamat mengerjakan!

2021-10-21 01:18:00

Ilmu Matematika Diskrit dapat diimplementasikan dalam bidang apa saja?

Artikel ini merupakan jawaban saya terhadap salah satu pertanyaan pada situs Kotakode.com, sebuah forum dan komunitas para developer di Indonesia. Lihat pertanyaan asliSaya membeli buku Matematika Diskrit dan terdapat materi yang didalamnya meliputi:1. Logika2. Himpunan3. Matriks, relasi, dan fungsi4. Induksi Matematik5. Algoritma dan Bilangan Bulat6. Kombinatorial dan Peluang Diskrit7. Aljabar Boolean8. Graf9. Pohon10. Kompleksitas AlgoritmaNamun saya kurang mengerti dalam pengimplementasian-nya, Mohon penjelasannya 🙏 Matematika Diskrit adalah salah satu ilmu yang sebenarnya cukup berguna di dunia pemrograman, namun sayangnya banyak pengajar (termasuk dosen) menjelaskan ilmu ini dengan konvensi dan cara yang terlihat kurang relevan dengan dunia pemrograman saat ini, misalnya penggunaan simbol A ∪ B daripada A && B dan ¬S daripada !S. Tujuan untuk belajar soal Logika dan Aljabar Boolean ini sebenarnya cukup jelas: agar kamu dapat memahami cara menggunakan perintah IF-ELSE dan operator Boolean secara baik dan benar. Di sini saya bakal kasih contoh sebuah function untuk mengecek apakah bilangan a, b, dan c berurutan dari yang terkecil hinga teratas: // Bahasa C #include <stdio.h> int main(){ int a = 3, b = 4, c = 9; // Perhatikan penggalan berikut ini if (a <= b && b <= c){ puts("Berurutan!"); } else { puts("TIDAK berurutan!"); } return 0; } Pertanyaannya di sini adalah, apa yang harus diubah sehingga perintah puts("Berurutan!")lah yang ditaruh di dalam bagian else dan sebaliknya. Dari materi Logika inilah kita mengetahui bahwa negasi dari A ∩ B (A dan B), yakni ¬(A ∩ B), sebenarnya sama dengan (¬A) ∪ (¬B) (tidak A atau tidak B). Sehingga, penggalan IF-ELSE tersebut dapat ditulis ulang sebagai: if (!(a <= b) || !(b <= c)){ puts("TIDAK berurutan!"); } else { puts("Berurutan!"); } Dan karena penggalan !(a <= b) sebenarnya sama saja dengan a > b atau b < a, maka hal tersebut dapat dipersingkat lagi menjadi: if (a > b || b > c){ puts("TIDAK berurutan!"); } else { puts("Berurutan!"); } Kemudian, materi Pohon, Graph, dan Matriks juga sangat berguna untuk memahami berbagai jenis struktur data yang sering dipakai dalam dunia pemrograman sehari-hari. Jika kamu berminat untuk mengolah gambar menggunakan pustaka/library OpenCV, kamu nantinya akan sering bermain-main dengan transformasi Matriks yang mungkin kamu sudah kenal saat duduk di bangku SMA atau bahkan SD. Sedangkan, Pohon (khususnya Pohon Biner / Binary Tree) merupakan salah satu topik yang paling sering ditanya saat kamu melamar pekerjaan di dunia software engineer. Mengapa? Karena struktur data tersebut kini masih berguna untuk melakukan pengurutan/penyortiran dan pencarian kumpulan data yang jauh lebih efisien daripada menggunakan deretan Array maupun Linked List. Kalau kamu berminat dalam dunia keamanan siber (Cyber Security), kamu mau tidak mau harus memahami tentang Graph karena melalui Graph, kamu bisa memetakan relasi antara sebuah informasi dengan informasi lainnya untuk membantu kamu melancarkan proyek investigasi kamu. Oh iya, fitur navigasi dalam aplikasi peta seperti Google Maps juga tidak dapat dibuat secara efisien tanpa pemahaman soal Graph yang lebih kompleks dan mendalam. Saya sebenarnya belum bisa menjawab hubungan antara semua bab yang kamu sebutkan dengan dunia pemrograman sehari-hari. Tetapi, ada beberapa hal lagi yang cukup penting: Himpunan bakal sangat berguna bagi kamu baik dalam dunia pemrograman berbasis objek (OOP) serta Database, karena nantinya kamu harus mencari hubungan-hubungan antar sebuah objek dengan objek lain, sebuah tabel/entity di dalam database dengan tabel/entity lain, dan hubungan antara himpunan data dengan himpunan data lain. Dan tentunya, Kombinatorial, Peluang Diskrit, dan Kompleksitas Algoritma cukup penting juga untuk dipahami. Karena sebagai pemrogram/programmer yang baik kita tentunya tidak hanya membuat algoritma yang tepat, tetapi juga efisien baik dalam penggunaan memori maupun waktu. Dengan memahami ketiga hal tersebut, kamu dapat menentukan apakah algoritma yang kamu buat terasa berlebihan dalam menggunakan perintah-perintah pada komputer. Demikian jawaban saya. Terima kasih.

2021-10-20 15:04:00

Menambahkan array baru pada object array

Artikel ini merupakan jawaban saya terhadap salah satu pertanyaan pada situs Kotakode.com, sebuah forum dan komunitas para developer di Indonesia. Lihat pertanyaan asli Pertanyaan Saya punya list data berdasarkan tahun, dimana list data tersebut dicek apakah list data tersebut setiap tahun ada datanya atau tidak… jika list data tersebut tidak ada data.nya, maka tambahkan object baru… ini codingannya saya : $data = [ [ 'hak' => '12', 'tambahan' => '6', 'sisa' => '12', 'tahun' => '2019' ], [ 'hak' => '12', 'tambahan' => '6', 'sisa' => '12', 'tahun' => '2021' ] ]; $tahun = [ '2019', '2020', '2021' ]; for($i=0;$i<count($tahun);$i++){ $tahun == $tahun[$i]; $filterData = array_filter($data, function($entry) { global $tahun; return $entry['tahun'] == $tahun; } ); $newdata = [ 'hak' => '12', 'tambahan' => '0', 'sisa' => '0', 'tahun' => $tahun ]; if(count($filterData)==0){ $data = array_push($newdata); } } return $data; Hasil yang diinginkan seperti ini: [ { hak: '12', tambahan: '6', sisa: '12', tahun: '2019' }, { hak: '12', tambahan: '0', sisa: '0', tahun: '2020' }, { hak: '12', tambahan: '6', sisa: '12', tahun: '2021' } ] Tetapi setelah saya jalankan codinganya, muncul error seperti ini : array_filter() expects parameter 1 to be array, null given Jawaban Halo, kalau saya lihat kamu salah menggunakan array_push(): $data = array_push($newdata); cara yang benar untuk memakainya adalah array_push($data, $newdata); karena fungsi array_push() akan mengembalikan return value berupa jumlah isi di dalam array yang sudah dimerge, bukan array yang sudah digabungkan tersebut. Makanya muncul error itu.

2021-10-20 13:14:00

✨ challenge seskam cavis the explorer 2021 ✨

Halo gais, selamat datang di challenge SESKAM: CAVIS THE EXPLORER 2021 yang kalian ga pernah duga! Karena yang kasih challenge kali ini bukan ko Reinhart sih, tapi gw, Shift. Maklum, dia juga sering sibuk ngurusin hal-hal lain apalagi berperan sebagai manajer dari Web Development Division HIMTI Alam Sutera dan Kemanggisan saat ini... Spill dikit: gambar koinnya kurang lebih juga begini kok :) Jadi, kali ini kita bakal tebak lagu daerah! Tapi bentar, kalau biasanya kalian dikasih emoji seperti 🥰🍔👑, kali ini soalnya ditulis dalam bahasa pemrograman yang kalian mulai pakai, C! Pertama-tama, kalian harus download dan buka program C nya di https://awan.reinhart1010.id/nextcloud/index.php/s/Gqpq5LG82icEFPj. Lalu... coba dijalanin dulu deh... Lah, kok begini? Untuk mendapatkan coin dari ko Reinhart kalian harus buat sebuah file text berisi lirik lagu Mars HIMTI. Lalu dimasukkin ke programnya. Kalau benar programnya bakal ngeluarin suatu clue buat jawab challengenya nih! Oh iya, buat file teksnya tolong perhatiin hal-hal-ini ya: Liriknya ga dipisah pakai newline atau ENTER, jadi semua bagian lirik ditulis di dalam satu baris yang sama (jangan lupa pake spasi kalau perlu).Kalian juga ga usah pake simbol-simbol seperti tanda titik (.) dan tanda koma (,), kecuali tanda sambung seperti "asal-usul".Kalian juga ga usah mikirin apa pakai huruf besar atau huruf kecil. Kalau gw sih, GW SUKA HURUF BESAR!!! Eh, gw ngegas ya? Kalau udah yakin jawabannya, gas aja contact ke ko Reinhart via Discord (reinhart1010#3583) atau LINE (reinhart1010) ya! Kasih tau nama lagu dan alasannya, laluBukti isi teks file input dan hasil screenshot programnya. Gampang kan? Kalau coin holder lain mintanya suruh bikin video TikTok dan lain-lain, kita kali ini soalnya yang berhubungan dengan materi kuliah kalian di COMP6047 - Algorithm and Programming. Oke, paling itu aja sih. Selamat mengerjakan! One Family, One Goal! Update 20/10/2021: Untuk meminimalisir potensi kecurangan antar kelompok seskam, setiap kelompok wajib untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan link soal yang diberikan di awal. Dan sesuai dengan peraturan Coin Grab SESKAM CAVIS THE EXPLORER, nilai dari koin kita bakal berkurang kalau semakin banyak kelompok yang berhasil nebak dan mendapatkan koin dari ko Reinhart. Terima kasih! Q: Soalnya susah, kak! Ya gimana lagi, Lu kan Anak IT... https://www.youtube.com/watch?v=jYT41vj5jZk

2021-10-20 12:11:00

Indonesia dan web3, Edisi 2021.

Artikel ini merupakan rilis ulang atas salah satu esai yang saya buat sebagai jawaban dari tugas mata kuliah CHAR6013 - Character Building: Pancasila dalam Universitas Bina Nusantara (BINUS). Anda dapat melihat versi asli dari esai tersebut di sini. Pembukaan Pada tahun 2015, sebuah lembaga survei internasional menemukan bahwa masyarakat Indonesia dan beberapa negara lainnya merasa lebih banyak menggunakan “Facebook” daripada “Internet”. Bahkan, tak sedikit masyarakat menganggap bahwa “Internet adalah Facebook” dan “Facebook adalah Internet”. Sedangkan, para pemerintah di berbagai negara seperti India, China, Iran, dan bahkan Amerika Serikat mulai mengatur dan menguasai kebijakan-kebijakan terhadap pemanfaatan internet dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara umum yang terkadang kontroversial. Di Kenya, Uganda, dan Tanzania, misalnya, masyarakat dilarang untuk memiliki situs blog dan/atau menjadi pengurus grup di media sosial tanpa lisensi resmi dari pemerintah setempat. Bagi segelintir individu dan organisasi yang bergerak dalam penegakan hak-hak digital seperti Mozilla dan Electronic Frontier Foundation (EFF), berita-berita tersebut cukup menjadi perhatian serius bagi mereka. Mereka khawatir bahwa kasus “Facebook adalah internet” lama-kelamaan akan menjadi sebuah kenyataan, bahwa seluruh internet di dunia ujung-ujungnya dikuasai oleh satu atau segelintir perusahaan yang telah sukses memanfaatkan Web 2.0 secara komersil termasuk Facebook dan Google. Dan inilah juga yang menjadi alasan di balik munculnya istilah GAFAM; singkatan dari Google, Apple, Facebook, Amazon, dan Microsoft; lima perusahaan besar yang menguasai mayoritas layanan internet saat ini. Dan ironisnya, lima perusahaan ini sama-sama berasal di satu negara yang sama: Amerika Serikat. Namun sayangnya, kasus-kasus seperti ini tidak menjadi alarm penting bagi kalangan masyarakat Indonesia yang sudah terlalu nyaman dengan dunia media sosial dan layanan-layanan internet yang ditawarkan oleh kelima perusahaan tersebut. Banyak sekali orang Indonesia yang ingin tenar sebagai influencer di Facebook, Instagram, dan media sosial serupa; memiliki banyak jumlah pengikut dan bahkan sudah memiliki penghasilan sehari-hari. Bahkan, kini tak sedikit perusahaan di Indonesia rela untuk menyisihkan sebagian dananya kepada para influencer untuk mempromosikan produk-produk mereka, baik sebagai sponsor maupun sebagai duta merek alias Brand Ambassador. Ya, Indonesia sudah terlalu, terlalu nyaman dengan Web 2.0. Dan hal ini juga memengaruhi pemerintah Indonesia untuk berupaya membangun startup dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan serupa yang bergerak di bidang Web 2.0. Saya masih ingat momen di mana Gerakan 1000 Startup Digital sedang digaung-gaungkan sebelum pandemi. Namun kini, saya terpaksa harus membawakan sebuah kabar buruk bagi "1000 Startup Digital" tersebut: mereka belum tentu dapat beradaptasi, dan bahkan berpotensi dibumihanguskan pada era web3, desentralisasi, dan liberalisasi kekuasaan internet dunia secara besar-besaran. Situs Gerakan 1000 Startup Digital Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Apa itu "Web 3.0" dan web3? Sebelum membahas tentang web3, saya akan membahas tentang "Web 3.0" terlebih dahulu. Jika dilihat dari riwayat perkembangan World Wide Web secara umum, "Web 1.0" (web generasi pertama) merupakan masa di mana akses internet hanya terbatas pada segelintir institusi tertentu (seperti pemerintah, militer, dan universitas), dan waktu itu dunia baru saja mengenal tentang konten HTML yang bersifat statis. Alhasil, situs-situs web yang dihasilkan pada zaman tersebut hanya digunakan sebagai arsip informasi dari pemilik situs tersebut, sama halnya dengan melihat dan membuka dokumen pada situs Google Drive hari-hari ini. Sedangkan, zaman "Web 2.0" (web generasi kedua) mulai diawali dengan munculnya teknik-teknik baru untuk menghasilkan konten web yang semakin dinamis dan interaktif. Misalnya, sebuah situs kini dapat menarik informasi tentang ramalan cuaca di sekitar lokasi para pengguna hanya dengan melihat alamat IP yang digunakan untuk mengakses situs tersebut. Hal ini telah membangkitkan sebuah generasi web terbaru di mana para pengguna tidak hanya dapat melihat informasi pada internet, tetapi juga dapat berinteraksi dan berpartisipasi secara langsung tanpa harus menyediakan server internet sendiri seperti situasi pada zaman sebelumnya. Dan itulah mengapa situs-situs Web 2.0 seperti Facebook memiliki ciri-ciri seperti berikut: Mengandalkan user-generated content (konten yang diunggah/dipublikasi oleh pengguna) secara penuh,Sering memiliki sistem akun (Sign Up, Log In) sendiri, danBersifat terpusat (seluruh kegiatan dilakukan pada situs dan layanan yang sama). A. Web Semantik Definisi "Web 3.0" kini setidaknya terbelah menjadi dua. Definisi pertama, "Web 3.0" adalah Web Semantik, di mana data dari situs-situs web dapat terbaca secara jelas oleh komputer, dan data-data tersebut dapat dikaitkan antara satu situs dengan situs lain. Web Semantik kini juga telah dimanfaatkan oleh banyak individu dan perusahaan untuk memproses dan mengolah informasi dari internet secara lebih efisien, termasuk mesin pencari seperti Google Search dan Bing yang mengakses jutaan situs web setiap harinya. Salah satu tujuan dari Web Semantik ini adalah untuk menerapkan integritas data (data integrity) pada setiap informasi yang diberikan oleh para pengguna di dalam sebuah situs web dan bahkan sistem komputer. Misalnya, jika seseorang hendak mengajukan sebuah kartu kredit baru kepada sebuah bank di Indonesia, maka bank tersebut akan mencari informasi dari beberapa sumber dan pihak terpercaya, termasuk Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk memastikan bahwa orang tersebut layak untuk mendapatkan kartu kredit sesuai dengan riwayat transaksi dan level kartu kredit yang diminta. Hal seperti inilah yang betul-betul diharapkan dari pemanfaatan Web Semantik tersebut. Masalah Web Semantik bagi privasi dan perlindungan data Pada versi esai sebelumnya, saya menyatakan bahwa Web Semantik dapat berujung seperti sistem kredit sosial di China, di mana ideologi dan politik manusia bersatu dengan algoritma komputer untuk menilai "kelayakan" seseorang sesuai hukum yang berlaku. Namun, jika hal tersebut disusupi oleh kelemahan algoritma dan agenda-agenda dari (partai) politik tertentu, hal seperti ini dapat membahayakan, dan bahkan menjajah, bangsa dan negara tersebut. Saya tentunya berharap sistem seperti ini tidak sepenuhnya diterapkan di Indonesia, karena resikonya sudah cukup jelas dan dapat bersifat fatal. Namun, ada satu masalah lagi yang muncul dari gerakan Web Semantik, dan kali ini masalahnya menyangkut terhadap identitas seseorang, kemaanan siber, dan perlindungan data pribadi. Kembali lagi, Web Semantik menegakkan integritas data, dan saya sendiri juga mendukungnya. Namun, dengan demikian, penggunaan nama palsu atau pseudonym seperti "kucingorenmatidijalan" dan "reinhart1010" sudah sia-sia untuk memproteksi identitas diri seseorang, karena suatu saat identitas tersebut dapat terbongkar secara mudah hanya dari menelusuri beberapa situs web yang tergabung dalam Web Semantik. Sebagai contoh, saya akan memulainya dengan situs saya, reinhart1010.id. Sesuai peraturan dari ICANN (badan pengelola nama domain dan alamat IP seluruh dunia), setiap pemilik domain wajib menyertakan identitas diri (nama, alamat surel/email, dan bahkan alamat fisik) kepada masing-masing badan pendaftar domain internet sesuai jenis domain yang dimilikinya. Dan karena itu beberapa informasi pribadi saya, termasuk alamat surel/email pribadi saya, juga disimpan di dalam sistem database PANDI (Pengelola Nama Internet Indonesia) untuk memastikan bahwa saya adalah pemegang sah atas domain situs saya, reinhart1010.id. Dari alamat surel tersebut, seseorang dapat saja mencari lebih dalam tentang saya hanya dengan mencocokkan alamat surel kepada database banyak situs web yang sudah ada. Entah Facebook. Entah YouTube. Entah LinkedIn, Gojek, LINE, Tokopedia, BCA Mobile, GitHub, Telegram, Aduan Konten, dan bahkan aplikasi PeduliLindungi. Masing-masing situs dan aplikasi tersebut juga menyimpan data dan aktivitas saya secara lebih lengkap, termasuk nomor telepon saya, alamat fisik saya, kartu kredit saya, tanggal lahir saya, riwayat tes PCR saya, dan bahkan segala sesuatu tentang teman-teman dan keluarga saya. Karena itu, saya sendiri merasa nama pseudonym "reinhart1010" sudah sia-sia untuk menyembunyikan identitas saya, karena semua data tentang saya kini mudah sekali dibongkar di dalam era Web Semantik, meskipun beberapa data pribadi tetap dilindungi oleh kebijakan dan mekanisme perlindungan data tertentu. B. web3: Web terdesentralisasi berbasis konsensus komputasi kriptografi Selain Web Semantik, "Web 3.0" kini juga berbicara tentang segala sesuatu yang kini disebut sebagai web3. Bahkan, web3 juga berdiri di atas prinsip-prinsip yang dikemukakan dari Web Semantik. web3 berfokus pada tiga hal utama yang jauh bertentangan dan hampir bertolak belakang dari Web 2.0, yaitu: Mengandalkan user-generated content (konten yang diunggah/dipublikasi oleh pengguna) dalam bentuk riwayat transaksi yang terkomputerisasi dan terverifikasi melalui proses kriptografi,Menggunakan kunci enkripsi asimetrik (kunci publik dan kunci privat) daripada nama pengguna dan kata sandi sebagai pengenal "akun",Bersifat terdesentralisasi dan kerap terfederalisasi, artinya setiap kegiatan pada web3 direkam hanya pada satu instansi (server) saja dan kemudian tersebar kepada server-server lain yang bersekutu dengannya. Perbedaan antara user-generated content dalam Web 2.0 dan web3 adalah web3 lebih menekankan penyimpanan dan pengarsipan riwayat (transaksi) perubahan data yang terkandung di dalam user-generated content, sehingga sebuah user-generated content di dalam web3 tidak dapat "dihapus" seperti user-generated content dalam Web 2.0. web3 juga sama-sama menerapkan integritas data ala Web Semantik, namun lebih berfokus terhadap integritas antar-transaksi yang terkandung di dalam sebuah ledger besar. Interaksi situs blog pada era Web 1.0. (Cloudflare) Interaksi situs blog pada era Web 2.0. (Cloudflare) Interaksi situs blog pada era web3. (Cloudflare) Rencana balas dendam di balik web3 Namun, di balik semuanya itu, saya memandang web3 sebagai sebuah ancaman bagi Indonesia dan dunia, karena web3 adalah rencana balas dendam terhadap sentralisasi dan komersialisasi kekuasaan internet oleh korporasi dan pemerintah. Jika berhasil diterapkan, web3 akan membawa sebuah disrupsi besar tak hanya dalam dunia TIK, tetapi juga di dalam dunia sosial, politik, hukum, keamanan, kekayaan intelektual, dan bahkan ideologi. Kini, banyak orang yang memandang bahwa web3 dan desentralisasi adalah pemborosan sumber daya komputer dan alam. Dan hal tersebut kerap dijadikan sebagai tameng bagi para oposisi web3, desentralisasi, dan liberalisasi internet. Menurut para oposisi, sistem mata uang kripto (khususnya berbasis blockchain) selalu melakukan pemborosan secara kolektif karena jutaan komputer yang menjalankan proses mining kini berlomba-lomba untuk menyelesaikan sebuah transaksi dengan baik dan benar. Jika mereka kalah, waktu, tenaga, dan daya listrik komputer yang digunakan untuk memverifikasinya tetap akan dibuang sia-sia. Dan semakin lama, tingkat komputasi yang diperlukan untuk memvalidasi transaksi mata uang kripto semakin sulit dan semakin membutuhkan waktu dan tenaga komputer yang lebih besar. Dan mungkin Anda sendiri juga bertanya, mengapa sistem transaksi di dalam Bitcoin dan mata uang kripto harus serumit ini, apalagi jika sistem gerbang pembayaran terpusat seperti Visa, Mastercard, dan GPN terlihat jauh lebih efisien untuk menanganinya. Jika Anda belum pernah membaca makalah whitepaper yang menjelaskan Bitcoin secara umum, menurut saya kini adalah waktu terbaik untuk membacanya. 1. web3 vs 1000 Startup Digital Beberapa startup "penengah" (akan dijelaskan dalam subbab ini) yang dipupuk dalam program Gerakan 1000 Startup Digital di Indonesia. Di dalam mukadimah atau pembukaan pada whitepaper Bitcoin, Satoshi Nakamoto (penemu sistem Bitcoin) menyatakan bahwa Bitcoin merupakan sistem pembayaran yang bersifat peer-to-peer, yang tidak membutuhkan kepercayaan dan intervensi dari pihak ketiga apapun, seperti Bank BCA, GPN, Badan Pemeriksa Keuangan, dan sebagainya. Terlebih itu, setiap transaksi dilakukan di Bitcoin memang dirancang untuk bersifat final dan tidak dapat diganggu-gugat. Dan kini, mayoritas layanan web3 juga berfokus pada visi yang sama: membentuk ekosistem pasar bebas di mana setiap transaksi dapat dilakukan tanpa adanya negosiasi dan pengawasan dari pihak ketiga yang berperan sebagai man-in-the-middle, alias pihak penengah atau mediator. Namun, di Indonesia sendiri, masih banyak startup digital yang ingin berperan sebagai man-in-the-middle tersebut. Dan memang, peran mereka sebagai man-in-the-middle inilah yang telah menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar bagi mereka via potongan komisi dan jasa periklanan. Contoh termudah dari kasus ini dapat kita lihat secara langsung dari mereka yang sudah lulus menjadi startup unicorn dan bahkan decacorn: Gojek dan Grab ingin menjadi penengah antara mitra pengemudi dan pelaku usaha kuliner, dengan para pelanggan.Traveloka dan Tiket.com ingin menjadi penengah antara pelaku industri pariwisata dengan para penggunanya yang ingin berpegian dan berwisata.Blibli, Bukalapak, Lazada, Shopee, Tokopedia, dan Zalora ingin menjadi penengah antara pelaku usaha yang menjual produk dengan para calon pembelinya.OVO, DANA, LinkAja dan sebagainya ingin menjadi penengah antara penjual dan pembeli melalui layanan dompet digital (e-wallet). Dan tak sedikit dari startup tersebut ingin mengembangkan konsep superapp di Indonesia dan mancanegara. Dan, tujuan dari para superapp tersebut adalah, kembali lagi, menjadi penengah bagi setiap gerak-gerik kehidupan masyarakat sehari-hari. Perusahaan-perusahaan seperti ini sudah menjadi role model alias teladan bagi ribuan startup digital lainnya. Dan tak heran, mayoritas startup-startup yang masuk ke dalam program 1000 Startup Digital Indonesia juga ingin menjadi penengah dari segala sesuatu. Gojek ingin menempatkan dirinya bukan hanya sebagai penengah, tetapi juga sebagai sistem operasi bagi kehidupan masyarakat Indonesia dan mancanegara. Sebenarnya, sistem mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum juga sama-sama berperan sebagai penengah antar transaksi yang dilakukan oleh para penggunanya. Tetapi, yang berbeda di sini adalah siapa yang mengontrolnya. Mayoritas bisnis startup digital di Indonesia pastinya dikelola dan dikontrol oleh satu atau beberapa perusahaan, misalnya Gojek yanng dimiliki oleh PT. Aplikasi Karya Anak Bangsa. Tetapi, saya memerhatikan bahwa ada dua hal penting yang membahas tentang kepemilikan sebuah sistem di dalam web3: Siapapun bisa memiliki web3. Baik dengan membeli koin atau tokennya, atau dengan berkontribusi dalam memasang dan mengembangkan infrastruktur di balik sistemnya.Namun, siapapun tidak bisa mengontrol web3 secara keseluruhan. Jika seseorang ingin untuk melakukannya, dia harus bersikeras membangun sebuah konsensus antar pengguna web3 untuk melakukan hal yang sama. Hal tersebut dapat diibaratkan jika perusahaan seperti Bank Mandiri, sesuai namanya, dikontrol 100% secara independen dan tanpa intervensi besar dari siapapun yang memilikinya, seperti pemerintah. Anda tentunya masih bisa membuat rekening baru, bertransaksi, dan bahkan bekerja dan menjadi direktur utama di dalam perusahaan tersebut. Namun, untuk mempertahankan posisi Anda sebagai direktur utama, Anda harus meyakinkan setiap pemegang saham perusahaan tersebut untuk tetap memilih Anda, dan proses seperti ini pasti memakan banyak waktu dan biaya, sama halnya dengan proses kampanye Pemilu di Indonesia. Alhasil, jika web3 sudah menjadi norma baru di kalangan masyarakat Indonesia, dan jika web3 terbukti lebih ekonomis bagi mereka, mereka dapat saja mulai meninggalkan aplikasi dan layanan "penengah" tersebut untuk beralih kepada ekosistem pasar terbaru yang semakin independen. Ujung-ujungnya, balik lagi ke era pasar tradisional yang bebas: siapapun bisa jual produk, dan siapapun juga bisa bertransaksi tanpa komisi dari sang pemilik pasar. Namun siapapun, mau tidak mau, harus bertanggung jawab dan mengambil risiko sendiri saat berpergian dan bertransaksi. Dan alhasil, startup-startup tersebut akan gulung tikar karena tidak ada yang mau "berkunjung" kepada mereka kembali. 2. web3 vs konten negatif dan Hak Kekayaan Intelektual Rancangan dari web3 sendiri juga kerap dipertanyakan terkait distribusi konten negatif. Dan hal yang sama juga berlaku untuk konten yang dilindungi oleh Hak Kekayaan Intelektual. Misalnya, seseorang dapat saja menaruh konten pornografi di dalam jaringan IPFS (InterPlanetary File System) untuk disebarluaskan kepada pengguna IPFS lain. Namun, karena prinsip desentralisasi integritas data antar riwayat transaksi yang sudah dipegang teguh oleh IPFS, konten tersebut secara praktis tidak dapat dihapus maupun diblokir. Dan, untuk memblokir konten tersebut secara massal pemerintah Indonesia harus entah: memblokir seluruh jaringan IPFS di seluruh Indonesia, ataumembuat sebuah program "antivirus" yang wajib dipasang menurut hukum untuk menolak dan menghapus distribusi konten tersebut. Kedua opsi ini tentunya bertentangan dengan prinsip keterbukaan informasi yang merupakan prinsip utama dari World Wide Web (WWW), dan kedua opsi ini tidak ada bedanya dengan mensensor dan memblokir konten yang memang sangat mudah dilakukan di era Web 2.0. Bahkan, beberapa organisasi seperti Mozilla, Wikimedia Foundation (organisasi di balik situs Wikipedia), serta The Internet Archive masih mengkampanyekan kesadaran tentang pentingnya keterbukaan informasi dalam internet bagi masyarakat global melalui berbagai cara. Pada tahun 2012, komunitas global Wikipedia memutuskan untuk menutup akses situs Wikipedia dan menggantinya dengan peringatan di atas, sebagai protes terhadap rancangan undang-undang Stop Online Piracy Act (SOPA) dan PROTECT IP Act (PIPA) di Amerika Serikat. Informasi lebih lanjut. https://www.youtube.com/watch?v=_nGZPRt5L6o Dalam rangka ulang tahun ke-25nya, The Internet Archive memutuskan untuk membuka layanan Wayforward Machine sebagai kampanye untuk mempromosikan pentingnya keterbukaan akses internet bagi siapa saja. Informasi lebih lanjut. Dan jika memang ide "antivirus" tersebut mulai diterapkan di berbagai negara, pembuat konten-konten seperti ini dapat saja mengubah sedikit isi dari konten tersebut untuk semakin sulit terdeteksi dengan program tersebut, sama halnya dengan situasi di dalam dunia keamanan siber saat ini. 3. web3 vs ideologi Sebagain besar orang mungkin bertanya, "mengapa web3 harus terdesentralisasi bukan terpusat?", "mengapa (saat ini) web3 itu semua serba blockchain?", "mengapa konten negatif akan sulit dihapus di dalam jaringan web3?" Ini semua karena web3 berdiri di atas beberapa prinsip utama yang sebenarnya sudah terkandung di dalam ideologi liberalisme. Secara umum, web3 menegakkan beberapa prinsip utama sebagai berikut: Kebebasan terhadap setiap pengguna untuk memiliki dan berinteraksi di dalamnya,Meritokrasi berdasarkan integritas data terhadap riwayat aktivitas dan transaksi yang dilakukan oleh para pengguna,Pemecahan kekuasaan terhadan operasional infrastruktur, jaringan, dan layanan internet kepada tangan publik. (Liberalisasi)Transparasi bagi siapapun dan untuk kegiatan apapun. Meskipun mata uang kripto saat ini kerap digunakan untuk transakasi-transaksi anonim, integrasi antar sistem yang terjalin di dalam web3 akan membuat kegiatan sesama pengguna di web3 semakin transparan, baik "baik" maupun "jahat". Apakah semuanya harus di-web3-kan? Menurut saya, web3 (dan juga Web Semantik) sendiri berpotensi sebagai solusi ampuh bagi berbagai permasalahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya, informasi-informasi seperti tingkat pemerataan ekonomi, rantai penyediaan (supply chain), dan perpajakan dapat dicari secara cepat dan mudah hanya dengan memetakan tempat-tempat usaha di Indonesia, kemudian menyimpannya di dalam sebuah ledger atau pustaka seperti IPFS yang dapat diakses, disimpan, dan dibagikan oleh siapapun. Informasi-informasi tersebut dapat berguna dalam pengambilan kebijakan dan keputusan oleh pemerintah Indonesia pada masa yang akan mendatang. web3 juga menekankan pentingnya kolaborasi dan gotong royong dalam berpartisipasi di dalam internet. Bahkan, banyak orang kini bergotong-royong untuk membangun dan mengoperasikan sistem terdesentralisasi secara massal seperti Bitcoin, meskipun mereka tidak berasal dari bangsa Indonesia maupun menjadi salah satu warga negara Indonesia. Saya harap hal serupa juga dapat ditanamkan dalam gerakan literasi digital di Indonesia (misal: Siberkreasi dan Pandu Digital Indonesia) saat ini agar masyarakat mulai siap untuk menghadapi dan berkontribusi dalam era web3, tidak hanya Web 2.0 saja. Tetapi, saya sendiri masih menentang pendapat bahwa semuanya, entah lokapasar daring (online marketplace), aplikasi media sosial, televisi dan video on-demand (VOD), harus sepenuhnya diimplementasikan dengan cara terdesentralisasi dan peer-to-peer layaknya Bitcoin, Ethereum, dan kawan-kawan. Malah, kini saya sendiri mengusulkan untuk menggunakan model otonomi daerah di negara kita sendiri sebagai model pemersatu jaringan Web 2.0 dan web3 di dunia. Dalam jaringan "otonomi daerah" ini, beberapa komunitas dapat membentuk dan mengoperasikan layanan-layanan Web 2.0 secara mandiri, namun layanan-layanan tersebut masih dapat diakses secara global dan peer-to-peer melalui jaringan web3. Dengan demikian, keamanan dan ketertiban para pengguna masih tetap terjaga di dalam zona Web 2.0 dengan asas kekeluargaan oleh komunitas atau organisasi yang menaunginya, sedangkan merea sendiri masih dapat mengakses dan berinteraksi dengan web3 secara mudah. Hal seperti inilah yang saat ini juga diterapkan dalam membangun jaringan fediverse (jaringan media sosial terfederasi) yang memungkinkan pengguna sebuah situs media sosial (misal: Mastodon) dapat berinteraksi dengan pengguna dari situs media sosial lainnya (misal: Pixelfed), tanpa harus membuat akun baru di situs media sosial (Pixelfed) tersebut. Seorang pengguna Mastodon juga dapat mem-follow akun yang berasal dari situs lain yang mendukung protokol ActivityPub. Apakah hal-hal ini bertentangan dengan Pancasila? Esai ini awalnya saya tulis untuk menjawab tugas saya dalam salah satu mata kuliah yang membahas tentang Pancasila. Meskipun beberapa prinsip di dalam web3 (seperti integritas data) sangat efektif bagi penegakan hukum di Indonesia, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh bangsa dan negara Indonesia untuk bersikap dalam menghadapi era web3: Jangan lupa "Ketuhanan yang Maha Esa". Sama halnya dengan kasus kredit sosial di China, penegakan meritokrasi web3 di Indonesia harus kembali dilaksanakan berdasarkan Pancasila, dan terutama Ketuhanan yang Maha Esa. Jangan sampai Indonesia menyetujui untuk menegakkan kebudayaan-kebudayaan web3 yang menentang nilai-nilai agama tersebut. Meskipun web3 dirancang untuk netral terhadap para agama dan kepercayaan, Jangan lupa "Bebas Aktif", politik luar negeri ala Indonesia. Kita sendiri mungkin sudah tak jarang dengan istilah tersebut. Dan kembali lagi, kita harus tetap menjaga perdamaian dunia, di dalam dunia internet baik Web 2.0 maupun web3. "Bebas Aktif" juga kembali menyadarkan kita untuk tetap memilah bagian-bagian dari Web 2.0 dan web3, karena belum tentu semuanya tetap sesuai dengan prinsip dan budaya masyarakat Indonesia yang beragam. Situs ini (reinhart1010.id) juga mendukung sebagian standar dan fitur yang ada baik di dalam Web 2.0 maupun web3. Sebagian dari artikel-artikel pada situs reinhart1010.id juga dibagikan ulang ke dalam platform blog lain seperti Medium, Quora, dan kini Kompasiana, agar para pembaca dapat memberikan tanggapan terhadap artikel ini di dalam masing-masing situs dan aplikasi. Andapun juga dapat memberikan tanggapan dalam situs reinhart1010.id melalui Webmentions, dan dapat mem-follow situs ini di berbagai media sosial fediverse yang mendukung protokol ActivityPub (@reinhart@reinhart1010.id). Daftar Pustaka Campbell, C. 2019, 17 Januari. "How China Is Using Social Credit Scores to Reward and Punish Its Citizens." TIME, diakses dari https://time.com/collection/davos-2019/5502592/china-social-credit-score/ pada tanggal 19 Oktober 2021.Internet Archive. 2021, 1 Oktober. Internet Archive's 25th Anniversary • Imagine the future of Internet. Diakses dari https://wayforward.archive.org/ia2046/ pada tanggal 19 Oktober 2021.Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. "Pertanyaan Umum." Aduan Konten, diakses dari https://aduankonten.id/pertanyaan-umum pada tanggal 19 Oktober 2021.Meunier, T. dan In-Young J. 2021, 1 Oktober. "Web3 — A vision for a decentralized web." The Cloudflare Blog, diakses dari https://blog.cloudflare.com/what-is-web3/ pada tanggal 19 Oktober 2021.Mirani, L. 2015, 9 Februari. "Millions of Facebook users have no idea they’re using the internet." Quartz, diakses dari https://qz.com/333313/milliions-of-facebook-users-have-no-idea-theyre-using-the-internet/ pada tanggal 19 Oktober 2021.Nakamoto, S. 2008. Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System. Diakses dari https://bitcoin.org/bitcoin.pdf pada tanggal 19 Oktober 2021.Protocol Labs. "What is IPFS?" IPFS Docs, diakses dari https://docs.ipfs.io/concepts/what-is-ipfs/ pada tanggal 19 Oktober 2021.Steiner, J. 2018, 26 Oktober. "What The Heck Is Web 3.0 Anyway?" Forbes, diakses dari https://www.forbes.com/sites/juttasteiner/2018/10/26/what-the-heck-is-web-3-0-anyway/ pada tanggal 19 Oktober 2021.Wikimedia Foundation dan komunitas Wikipedia Bahasa Inggris. 2012. Wikipedia: SOPA Initiative. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:SOPA_initiative pada tanggal 19 Oktober 2021.

2021-10-17 12:06:37

✨ challenge seskam cavis the explorer 2021 ✨

halo semua, kalian pasti nyari koin dari ko Reinhart kan? gw alterine, temennya si dia sih, kebetulan karena ko Reinhart sering sibuk ngurusin hal-hal lain sebagai manajer dari divisi Web Development HIMTI Alam Sutera dan Kemanggisan; btw jangan lupa buat follow IG && Twitter && GitHub gw, tapi kalau ga mau ya udah; kalian ga harus ngefollow gw dan kawan-kawan buat dapet koin dari Reinhart, kok; jadi gais, untuk challenge buat coin grab kali ini kita bakal main tebak lagu bahasa daerah! gampang kan? lagu di dalam soalnya bukan pakai Google Translate, bukan pake gambar/emoji, apalagi kalau nyaninya ngaco; tapi, soal lagu ini ditulis pakai bahasa pemrograman! waduh, gimana ya caranya? awalnya sih gw mau kasih soal dalam Python dan Java, tapi karena sebagian besar kalian baru aja megang COMP6047-Algorithm and Programming, ya sudah... kali ini gw bakal cuman kasih 1 soal pakai bahasa C; dan iya, kodingan C nya bakal sesuai dengan materi yang bakal kalian diajarin nanti, seperti cara buka tutup file teks dan sebagainya; untuk menjawab soal ini kalian harus masukkin seluruh isi Mars HIMTI ke dalam sebuah file teks, misalnya himti.txt atau testdata.in; untuk mastiin kalau hasil programnya benar dan konsisten antar kelompok, kalian juga harus perhatiin beberapa hal ini: liriknya ga dipisah pakai newline atau ENTER; jadi kalau misalnya kamu mau nulis bagian lirik di bawahnya, gas aja pencet tuh huruf spasi di keyboard kalian!ga usah pake simbol-simbol seperti tanda titik (.) dan tanda koma (,); tapi kalau mau pakai tanda sambung seperti "asal-usul" itu masih boleh ya!ga usah mikirin juga apa pakai huruf besar atau kecil; cuman sebaiknya sih kalian pilih antara semua huruf besar atau huruf kecil;pastiin kamu hanya kasih satu tanda spasi antar kalimat; misalnya "teknik informatika" bukan "teknik informatika"; percaya deh, kalau isi filenya salah jawabannya bakal ngaco kayak /dev/urandom! kalau udah berhasil, programnya akan nge-printf() sebuah clue untuk menebak lagu daerah yang dimaksud; kalian harus kasih tau jawabannya ke ko Reinhart via Discord (reinhart1010#3583) atau LINE (reinhart1010); kalau kita sih lebih prefer Discord ya, soalnya kalau LINE takut bentrok sama urusan kuliah dan lain-lain; oh iya, sama satu lagi, untuk mendapatkan koin dari ko Reinhart kalian harus: kasih tau nama lagu plus alasan kenapa kalian nebaknya itu, &&bukti isi teks file input && hasil screenshot programnya kalau kalian ngebocorin jawabannya ke kelompok sebelah, konsekuensi ditanggung kalian ya! karena sesuai dengan peraturan Coin Grab SESKAM HIMTI 2021 nilai koin dari kita bakal berkurang kalau semakin banyak kelompok yang berhasil menjawab tantangan && mendapatkan koin; tapi, kalau kita ngerasa challenge ini terlalu mudah buat kalian, kemungkinan besar kita bakal kasih soal yang lebih menantang biar kelompok yang berhasil dapat lebih banyak poin daripada yang lainnya; ya udah, itu aja sih; eh gw belum kasih programnya ya? link program bahasa C: https://awan.reinhart1010.id/nextcloud/index.php/s/MAkdKEyFqdca7fn selamat mencoba kawan-kawan! #include<OFOG.h> update 20/10/2021: untuk meminimalisir potensi kecurangan antar kelompok seskam, setiap kelompok wajib untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan link soal yang diberikan di awal; && sesuai dengan peraturan Coin Grab SESKAM CAVIS THE EXPLORER, nilai dari koin kita bakal berkurang kalau semakin banyak kelompok yang berhasil nebak && mendapatkan koin dari ko Reinhart; return 0!

2021-10-17 01:32:33

I'll never ask and answer on Stack Overflow again.

This blog post is supposed to be an exciting news that I have decided to return to StackOverflow after being inactive since 2014. However, after trying again to participate in the site again, I have finally decided not to join Stack Overflow again. While the site itself is still enjoyable with millions of software developers. But please mark my words: Everything in Stack Overflow is a duplicate of everything in Stack Overflow. Here's the thing. The number of users and questions over Stack Overflow seems to outpace the development of many programming languages, libraries, and frameworks. And this, at least, has been proven true for some programming languages such as C and BASIC which is way slower to have new language features compared to those in JavaScript and Python today. What does this mean? This means that the yield rate of new unique questions deriving from that programming language, framework, or library are getting slower and slower over time. And, in layman's terms, what does this really mean to the future of Stack Overflow website? Theoretically, in the future, you won't be able ask new questions since they'll be closed as duplicate no matter the things you ask. In this blog post I will also discuss how the general Stack Overflow community compares to an Indonesian-based community over Kotakode.com, a Q&A site which works similarly to the ones at Stack Overflow. While I myself have been appointed as one of the moderators of their official Telegram group, this blog post is not an endorsement of and by the Kotakode.com company (PT. Kota Digital Nusantara) as well as the broader community. Regular Expressions: A Simple Example. One day, an user on Stack Overflow asks a new question about PHP and regular expressions. The user would like to replace the following batch of text: ?DEMO - 92?JOHN AAA?DEMO - 11?JOHN BBB?DEMO - 34?JOHN CCC?DEMO - 55?JOHN DDD?DEMO - 73?JOHN EEE into this: JOHN AAAJOHN BBBJOHN CCCJOHN DDDJOHN EEE Of course, this would be easy with Regular Expressions, right? And I know that preg_replace() would be the perfect job for that. Hence I suggest the author to use preg_replace('/^\?DEMO - \d+\?/', '', $str);. The author of the question thanked my by marking my answer as the correct one. Hey, that's good! At least I get an additional 25 reputations for that. But soon I realized that this is just a dream, as a couple of minutes later someone with a gold badge of PHP closed this as a duplicate. https://stackoverflow.com/questions/69592918/parse-texts-with-php/69592967#69592967 Of course, I would be thankful to mickmackusa, Nigel Ren, and oguz ismail, three of the substantial amount of StackOverflow users out there who have emotionally influenced me to never visit StackOverflow again. At least, asking and answering questions on the site, as expected by their community guidelines: Get used to answering and editing and asking questions first, so that you have a better feel for the local culture and get to see your own work become a part of the site. (Voting and comment and deleting things are all secondary activities on Stack Overflow) Learning from Quora In Quora, all answers deriving from questions marked as duplicate will be merged instead into the referring questions, allowing other users to view different opinions and even upvote the answers. Furthermore, Quora shows the original question which the user was originally answered for, if the question has been renamed or merged with another one. Quora knows that many of their questions tend to be open-ended, so this would be the best choice to keep the community alive. And it worked well! However, Stack Overflow seems to expect that their answers are close-ended. And they thought closing duplicates this way could be better. This is also the reason why many long-time users are angry when someone asks an open-ended question, like, "Is HTML a programming language?". To quote from theirs: As it currently stands, this question is not a good fit for our Q&A format. We expect answers to be supported by facts, references, or expertise, but this question will likely solicit debate, arguments, polling, or extended discussion. If you feel that this question can be improved and possibly reopened, visit the help center for guidance. I personally feel that the well-educated users of Stack Overflow have created a barrier of entry for newcomers. Whether they're visiting Stack Overflow for the first time, or even just got their hands in programming for the first time. Imagine a place where you're blamed for not hearing people's past discussions on that place, and Stack Overflow could be one of them. This is a problem not just for Stack Overflow, and this could affect millions of people who visited the site. Meanwhile, at Kotakode.com, our mission is to build and empower an inclusive community of Indonesian programmers and software developers. So seriously, what would be the point of that if we always mute and kick those newbies just because they are asking questions which have been answered years and even months ago? How do we handle things differently in Kotakode.com? Now, if you're visiting Kotakode.com, you'll notice that the site is generally written in Indonesian (Bahasa Indonesia). This is because the site is dedicated towards Indonesian-speaking software developers, and the lack of a similar Q&A site for them have become one of the motivations behind building it from scratch. Even if you're familiar with the language, asking and answering questions over Kotakode feels different than the likenesses of Stack Overflow. Some questions over Kotakode are open-minded, and we even have specific question tags such as #referensi (lit. references) to mark questions which could be filled with opinions and arguments - something which is discouraged otherwise in Stack Overflow. Now, of course, Kotakode is still new, and we're just about 1 year old. However, what will happens if Kotakode face the same challenge as Stack Overflow today? There are many things which are needed to be discussed at first (e.g. duplicate policy), or we might end up splitting our sites for newbies and advanced, just like the CodeNewbie Community forum which is now separated from the larger DEV.to. At the end, again, I won't be motivated to participate in Stack Overflow again. Enough is enough.


Reinhart Previano Koentjoro
Reinhart Previano Koentjoro
Citra Manggala Dirgantara
Citra Manggala Dirgantara

A Reinhart company

Products

Company