Search

Reinhart Previano K.

Do you love to Ctrl-K, Ctrl-/, or / ? Now you can do three of them (>_ )!

No results so far...

2024-05-11 13:39:22

Pesan-pesan terakhir di AOG (Part 1): Hikmat dari datangnya Antikristus.

Dalam kesempatan akhir ini, saya ingin menyampaikan beberapa pesan penting sebelum akhirnya resmi keluar dari komunitas Army of God Jakarta. Pesan ini cukup mendalam, dan sepertinya tidak akan muat dalam satu sesi sharing Connect Group saja. Ada banyak hal-hal mendalam yang telah menjadi dasar saya untuk memulai pelayanan baru saya dalam beberapa bulan yang mendatang. Dan komunitas CG yang satu ini setidaknya menjadi jawaban atas doa saya sepuluh tahun yang lalu. [26] Saudara-saudara! Coba ingat bagaimana keadaanmu pada waktu Allah memanggil kalian. Cuma sedikit saja dari antaramu yang bijaksana atau berkuasa, atau berkedudukan tinggi menurut pandangan manusia. [27] Sebab memang Allah sengaja memilih yang dianggp bodoh oleh dunia ini, supaya orang-orang pandai menjadi malu. Dan Allah memilih juga yang dianggap lemah oleh dunia ini, supaya orang-orang yang gagah perkasa menjadi malu. [28] Allah memilih yang dianggap rendah, hina, dan malah yang dianggap tidak berarti oleh dunia ini, supaya Allah menghancurkan yang dianggap penting oleh dunia. [29] Dengan demikan tidak seorang pun dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. 1 Korintus 1:26-29 BIMK Ada banyak hal yang saya pelajari dalam penggembalaan ini, salah satunya bahwa Tuhan akan selalu menjawab doa kita pada waktu-Nya. Kita pun tidak usah menjadi orang-orang hebat untuk dapat menjadi berdampak, karna yang Tuhan sebenarnya inginkan adalah agar kita bisa melakukan kehendak Tuhan, di manapun kita ditempatkan. Bumi adalah tempat kita berlatih untuk melakukan kehendak Tuhan yang lebih besar di surga. Buktinya, baca janji-janji Tuhan dalam setiap gereja dalam Wahyu pasal 2 dan 3. Ada janji-janji yang disebutkan secara spesifik dan eksklusif bagi orang yang benar-benar melakukannya. Dan ada juga perumpamaan talenta pada Matius 25, di mana setiap hamba yang baik dan setia masuk ke dalam kebahagiaan Bapa (yaitu Firdaus, surga) dengan janji bahwa mereka diberikan tanggung jawab yang lebih besar. Ya, mereka masuk ke surga dulu sebelum diberikan tugas yang lebih besar oleh Bapa kita di surga. [21] Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Matius 25:21 TB2 Sekarang, misi pelayanan saya yang selanjutnya sangat mendalam dan spesifik, mempertahankan tatanan hubungan Tuhan, manusia, dan teknologi seperti yang di atas. Hari ini, dunia justru menginginkan yang sebaliknya: melupakan Tuhan dan bergantung pada teknologi. Dan untuk menjelaskannya, saya mau tak mau harus menjelaskan kembali tentang akhir zaman. 1. Bilangan binatang tidak perlu kita takuti. Saya akan langsung membahas Wahyu pasal 13. Pasal ini sering ditakuti banyak orang bukan karena angka 13, namun karena pasal inilah yang menyebutkan “bilangan binatang” yang bernilai 666 (ayat 18). [18] Yang penting di sini ialah hikmat; Siapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam. Wahyu 13:18 TB2 Ya, banyak sekali yang memamerkan angka ini sebagai suatu simbol yang dapat terlihat jelas di umum, mendeklarasikan bahwa mereka mendukung datangnya Antikristus. Namun, kita tidak diminta Tuhan untuk mengenal angka ini dari kasat mata. Jika bilangan binatang tersebut didefinisikan Tuhan sebagai empat ratus empat (404), misalnya, maka pengikut-pengikutnya akan juga memamerkan angka tersebut dari angka yang lain. Bahkan ayat ini bukanlah satu-satunya dalam Alkitab yang menyebutkan angka tersebut. Anda bisa melihat angka yang sama pada 1 Raja-Raja 10:14, 2 Tawarikh 9:13, dan Ezra 2:13 (meskipun dicatat pula dalam Nehemia 7:18 dengan sedikit perbedaan) tanpa menyebutkan apapun mengenai akhir zaman dan Antikristus. Angka ini tidak pernah disebutkan bagai “angka terlarang” atau “angka yang tak boleh disebutkan” dalam Alkitab, seperti nama Tuhan “Yahweh” yang tidak boleh disebutkan secara sembarangan (Keluaran 3:14, 20:7). Dan karenanya, kita tak perlu takut meskipun tetap berwaspada. Belum pula ahli-ahli teologi yang berpendapat bahwa angka tersebut bukanlah 666, melainkan 616. Dan iya, tak sedikit salinan naskah yang dikumpulkan saat menyusun Alkitab dari awal menyebutkan angka “enam ratus dan enam belas” (χξϛ) dari pada “enam ratus enam puluh enam” (χιϛ) dalam bahasa asli mereka. Ada pula yang mengaitkan kedua angka tersebut dengan gematria, teknik menghitung nilai numerik dari susunan huruf tertentu, yang juga menyimpulkan bahwa nama-nama termasuk Kaisar Nero dan Muhammad memiliki angka tersebut. Intinya, apapun angkanya, yang Tuhan sebenarnya inginkan dari kita adalah mengenal bilangan ini bukan sebagai angka yang utuh atau yang tertulis, melainkan melalu suatu proses yang menguji dan mempertimbangkan segala sesuatu sebelum akhirnya menuju suatu konklusi. [21] Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. [22] Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. 1 Tesalonika 5:21-22 TB2 Bahasa sehari-hari yang umum bagi para anak-anak IT? Checksum. Yang penting di sini ialah hikmat; Siapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung checksum binatang itu, karena checksum itu adalah checksum seorang manusia, dan checksum-nya ialah enam ratus enam puluh enam. Siapa yang bilang bahwa Firman Tuhan tidak relevan dengan teknologi hari-hari ini? Prinsip dari gematria sendiri tak jauh berbeda dengan istilah checksum yang semakin hari semakin penting dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hari-hari ini, checksum selalu dipakai untuk memvalidasi apakah kata sandi (password) Anda valid, dan karena checksum itulah, situs web dan aplikasi dapat mengenal password Anda sebagai Yesus1-1Tuhan&AllahKami tanpa harus menyimpan teks tersebut secara mentah-mentah, agar jika aplikasi tersebut diretas (“kena hack”), orang-orang jahat tidak dapat mengambil paksa akun Anda. Hal yang sama juga berlaku untuk mengecek apakah transaksi-transaksi online Anda dinyatakan sah, baik dalam QRIS maupun Bitcoin. Memang terasa deja vu dengan ayat 16-17: [16] Ia (binatang kedua) menyebabkan semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, [17] dan tidak seorangpun dapat membeli atau menjual selain mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Wahyu 13:16-17 TB2 2. Indonesia sedang dipersiapkan menjadi kendaraan Antikristus. Ada dua hal menarik lagi yang perlu saya bahas dari pasal yang sama. Pertama, bisa dikatakan bahwa setidaknya 5 dari 6 agama dan 1 kepercayaan yang diakui di Indonesia sedang menantikan datangnya seseorang pemimpin besar di masa depan. Orang-orang Kristen yang percaya sedang menunggu kedatangan Kristus yang kedua kali, yang akan menciptakan langit dan bumi yang baru (Wahyu 21-22). Sebagian umat Muslim menunggu datangnya Imam Mahdi, yang dikabarkan akan hadir, mengajarkan, dan menegakkan kembali syariat Islam dan perdamaian dunia. Memang Mahdi tidak tercatat dalam Al-Quran, namun ada dalam beberapa hadis yang juga masih dipercayai kaum-kaum tertentu, meskipun tak mencakupi semua pemeluk agama Islam di Indonesia. Ada yang menunggu datangnya Maitreya sebagai Buddha berikutnya yang akan kembali mengajarkan Dharma dalam dunia. Ada pula yang menunggu Satrio Piningit yang akan memerintah seluruh dunia dari pulau dan keturunan Jawa, dan layak disebut Ratu Adil, menurut Jangka Jayabaya, yang sudah memprediksi adanya kereta api, pesawat terbang, hingga munculnya LGBT di pelosok-pelosok dunia. Dan terakhir, wujud (avatar) terakhir dewa Wisnu juga akan hadir sebagai Kalki, memerangi kejahatan dan menegakkan kebenaran pada zaman akhir (Kali Yuga). Mungkinkah mereka semua sebenarnya menanti-nantikan seseorang yang sama pada akhir zaman? Atau setidaknya, salah satu dari kedua orang ini: yang dikenal umat Kristen sebagai Kristus, dan yang dikenal sebagai Antikristus? Dan agar sang naga itu bisa mengarahkan miliaran manusia kepada sang Antikristus, ia harus membuat manusia lupa akan Tuhan, atau setidak-tidaknya, hanya mengenal Tuhan secara dangkal. Seperti makna “Esa” dalam “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Masyarakat Indonesia sama-sama sepakat bahwa: Tuhan itu ada Struktur organisasi Tuhan terdiri atas hal-hal yang bersifat secara rohani Tuhan telah menciptakan bumi beserta isinya, termasuk manusia Tuhan mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan Mereka berdosa, mendukakan bumi dan Penciptanya, dan harus kembali kepada jalan Tuhan untuk memulihkan keadaan dunia Manusia harus belajar berterima kasih dan berbakti kepada Tuhan Namun, masing-masing agama dan kepercayaan memiliki interpretasi yang beragam mengenai Tuhan, dan ujung-ujungnya setiap pemeluk diminta untuk mengakui bahwa “apapun interpretasi manusia atau kaum tertentu tentang Tuhan, kita sama-sama sepakat bahwa ada Tuhan”. Itulah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tatanan teopolitik yang dimiliki Indonesia justru memposisikannya di tengah antara kedua ujung posisi negara terhadap Tuhan: Jenis NegaraContohJika pengenalan mereka tentang Tuhan melalui agama tersebut benarJika pengenalan mereka tentang Tuhan melalui agama tersebut salahSekular: Tidak melibatkan Tuhan baik secara budaya maupun politikAmerika Serikat, ChinaNegara tak mau ikut campur dalam urusan keagamaan secara mendalam.Negara hanya berfokus kepada pemupukan budi pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan secara universal, sehingga tidak memerlukan pemahaman Tuhan yang benar maupun salah.Multikultural: Mengakui adanya Tuhan serta beragam agama Indonesia, SingapuraNegara berkewajiban untuk melindungi hak-hak agama yang benar.Negara berkewajiban melindungi hak masyarakat untuk berpindah agama/kepercayaan.Monoteis: Hanya mengakui satu jenis agama baik secara budaya maupun politikArab Saudi, Brunei Darusallam, Israel, Jepang, VatikanDengan mengakui bahwa agama tersebut sangat benar, satu negara dapat mendapatkan perjanjian dan perlindungan Tuhan.Dengan mengakui bahwa agama tersebut sangat benar, satu negara dapat disesatkan dengan pengenalan Tuhan yang salah. Dengan tatanan politiknya yang berlandaskan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, Indonesia justru menjadi sasaran bagi Antikristus dengan embel-embel persatuan, kerukunan antaragama, dan yang terpenting, menciptakan perdamaian dunia. Ya, bukan hanya perdamaian negaranya sendiri. Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) 3. Kekristenan selalu berbicara “mengapa kita harus masuk ke surga?” Setidaknya, bagi Kristus dan Antikristus, setiap orang harus mengakui Ketuhanan itu. Antikristus mengharapkannya agar manusia hanya mengenal Tuhan dengan definisi yang dangkal, sedangkal “Dia adalah Sang Pencipta yang mengajarkan kebaikan yang perlu kita lakukan!”, tanpa mengenal mengapa Tuhan melakukan semua itu. Karena itu, Kekristenan tidak serta-merta mengajarkan “bagaimana cara saya untuk masuk ke surga”. Melainkan, “mengapa saya harus masuk ke surga?” Saya percaya kalian pernah ditanya pertanyaan yang serupa. Bukan masuk ke surga sih, namun masuk ke dalam organisasi atau perusahaan tertentu. Tak sedikit perusahaan meminta kita untuk menjawab 2 jenis pertanyaan ini: Mengapa Anda memilih perusahaan kami? dan Mengapa kami sebagai perusahaan harus memilih Anda. Orang-orang yang dewasa secara rohani adalah mereka yang mampu menjawab pertanyaan kedua: “mengapa Aku (Tuhan) harus mengizinkan kamu masuk ke dalam surga?” Ada alasan tertentu di balik setiap aksi kita kepada Tuhan, baik itu berdoa, beribadah, melayani, dan sebagainya. Bagi Anda yang belum menemukan jawaban pertanyaan ini secara tepat, teruslah dalami Firman Tuhan. Saya percaya jawaban pertanyaan ini akan menjadi semakin spesifik ketika kerohanian Anda semakin bertumbuh. Ada yang menjawabnya dengan mengklaim janji-janji tertentu, dan ada juga yang memasukkan pengalaman hidupnya bersama Tuhan. Karena, ketika kita sudah punya alasan yang kuat, iman kita pun juga akan semakin kuat menghadapi motivasi hati dan pengajaran yang salah. Tuhan: “Jadi, mengapa kamu ingin masuk ke surga?”Manusia: “Karena aku tidak mau ke neraka!”Tuhan: “Kalau demikian, mengapa kamu tidak mau ke neraka?”Manusia: “Karena di neraka ada banyak penyiksaan, dan aku pernah bermimpi kedua orang tuaku menderita di sana... Neraka itu kejam!!! Aku benci neraka!!!” Tuhan: “Jadi, untuk apa kamu ingin masuk ke surga? Apakah hanya agar bisa merasa aman saja dari neraka untuk selama-lamanya?”Manusia: “Iya... ?” Tuhan: “Tak tahukah kamu bahwa Aku dan Setan sama-sama membenci kemalasan! Ketika anak-anak-Ku malas, ia memanfaatkan mereka agar mereka juga rajin dalam dosanya. Dan kamu hanya ingin berada di tempat-Ku hanya untuk bermalas-malasan dari neraka, sedangkan banyak anak-anak-Ku yang masih ingin melayani-Ku selama-lamanya?” 4. Mengakui Tuhan secara universal adalah medium pertumbuhan bagi Antikristus. Saya memahami, tak sedikit orang Kristen di Indonesia yang selalu berdoa akan perkenanan Tuhan atas bangsanya. Namun, kemajuan sebuah negara yang jelas-jelas mempertahankan adanya Tuhan dan banyak kepercayaan inilah dapat dimanfaatkan siapa saja, termasuk Antikristus, sebagai teladan bagi negara-negara yang lain untuk mengikutinya. Ketika satu per satu agama dan kepercayaan tersebut digabungkan dan “dirukunkan”, masing-masing komunitas orang percaya akan mulai bersepakat untuk mengenal Tuhan sebagai Sang Pencipta dan Pengatur dengan definisi yang sangat umum dan dangkal, seperti yang sudah dibahas pasa pesan kedua. Atas definisi tersebutlah masing-masing kepercayaan mereka-rekakan tentang wujud dan rupa Tuhan, kebijakan-kebijakan Tuhan, dan ujung-ujungnya tidak berbicara tentang rencana Tuhan yang masih hidup. Bagi agama tertentu, Tuhan adalah sekumpulan dewa. Bagi yang mengaku dirinya Kristen, Tuhan adalah Trinitas itu sendiri. Dan bagi yang lain, “Tidak ada Allah seperti Allah!” Namun ketiga-tiganya ini sama-sama mengenal Tuhan dengan ciri-ciri yang umum, dan di situlah kata “esa” dalam “Ketuhanan Yang Maha Esa” berarti: menganggap bahwa Tuhan itu satu, meskipun terdapat ratusan definisi tentang siapa Tuhan itu. Pengenalan akan Tuhan yang tidak sedalam Kekristenan ini yang akan menjadi kekuatan Antikristus. Dengan banyaknya definisi atas Tuhan dan Kebenaran Tuhan, manusia akan semakin lama dapat mempertanyakan keabsahan Tuhan dalam hidupnya, karena upaya-upaya yang mereka lakukan “untuk kepentingan Tuhan” tidak membuahkan hasil seperti yang dijanjikan banyak pemuka agama. Dan dengan adanya ramalan datangnya pemimpin dunia dari berbagai sisi kepercayaan, dan tanpa mampu mengenal ciri-ciri Tuhan yang sesungguhnya, salah satunya tujuan Tuhan mengampuni dosa kita supaya kita jangan berbuat dosa kembali. Jangan-jangan, dari sinilah mereka akan salah mengenal sang pemimpin seperti “seseorang yang diutus oleh Tuhan”, padahal ia sebenarnya adalah Antikristus. Jadi, bagaimana cara mengenal Antikristus itu? Kembali ke Alkitab, kita harus mengenal ciri-ciri Tuhan yang asli secara spesifik sebelum dapat mengenal yang palsu. Yang penting di sini ialah hikmat; Siapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung checksum binatang itu, karena checksum itu adalah checksum seorang manusia, dan checksum-nya ialah enam ratus enam puluh enam. Dari sini, dapat dikatakan bahwa checksum alias “hasil penilaian dari segala karakteristik” milik Tuhan akan sangat berbeda daripada checksum manusia. Dan pemimpin Antikristus itu juga akan berujung seperti manusia biasa. Mungkin itu saja pesan-pesan saya untuk pengembalaan AOG. Masih ada Part 2-nya, kok. Kalian harus benar-benar mengajarkan pengenalan Tuhan yang sesungguhnya kepada banyak anak-anak muda. Iya, mengajarkan keselamatan tetap menjadi prioritas, namun Anda juga harus mem-followup anak-anak muda yang diselamatkan dengan pengajaran yang benar, berdasarkan Alkitab, dan mengajarkan mereka cara mencintai Firman Tuhan, supaya mereka akan terus mengenal ciri-ciri Tuhan secara benar dan spesifik, agar mereka juga tak tersesat ke dalam jebakan Antikristus. Namun, di sisi yang lain, mayoritas dari kita memang sudah dewasa secara rohani, karena itu saya memberanikan diri untuk memberi pengajaran seperti ini supaya teman-teman dapat melihat master plan-nya Tuhan dan Setan, dan mengapa kebangkitan-kebangkitan rohani itu masih relevan dan diperlukan hari-hari ini. Tuhan dan bahkan Setan menganggap Indonesia sendiri sebagai negara yang penting dan strategis, sehingga setiap dari kita pun berharga untuk menjalankan rencana-rencana besar (baik bagi Tuhan maupun Setan), seperti apa kata Tuhan dalam 1 Korintus 1:26-29: [26] Saudara-saudara! Coba ingat bagaimana keadaanmu pada waktu Allah memanggil kalian. Cuma sedikit saja dari antaramu yang bijaksana atau berkuasa, atau berkedudukan tinggi menurut pandangan manusia. [27] Sebab memang Allah sengaja memilih yang dianggp bodoh oleh dunia ini, supaya orang-orang pandai menjadi malu. Dan Allah memilih juga yang dianggap lemah oleh dunia ini, supaya orang-orang yang gagah perkasa menjadi malu. [28] Allah memilih yang dianggap rendah, hina, dan malah yang dianggap tidak berarti oleh dunia ini, supaya Allah menghancurkan yang dianggap penting oleh dunia. [29] Dengan demikan tidak seorang pun dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. 1 Korintus 1:26-29 BIMK

2024-05-09 18:58:51

Introducing HAM v1.0.4.

HAM is a simple Jekyll framework that allows you to build static wiki sites. And today, we are introducing a maintenance update with the following changes. First, the Bootstrap Icons dependency was updated from v1.11.1 to v1.11.3. There are no significant changes from the 100+ new icons introduced since v1.10. These icons are directly built into HAM, and you can simply use them in your Markdown source files as <i> HTML tags. (Just make sure you have reviewed their Web Accessibility recommendations on placing icons.) Next, we have also fixed a bug on v1.0.0 where users are redirected to the wrong YouTube URL when their web browsers do not support <iframe>. Well now, all modern web browsers supports that feature, and we're making this change to ensure that . HAM is not going anyway sooner. We still love HAM, and still use them on some of our internal projects. In fact, HAM still looks very nice on building another API documentation website like this: Of course, there are still some work to do. At least, readjusting the heading texts and adding more Liquid tags, and making these ugly tables more beautiful just what we recently did on our main website. So don't worry, we're still dogfooding HAM on our own.

2024-05-04 13:39:00

Site Update: More glass-cards!
Cover image for Site Update: More glass-cards!

2024-05-02 01:38:28

Berdoalah untuk saya…

Semenjak saya terakhir kali menulis tentang serentetan masalah aplikasi pemerintah, dan ambisi pemerintah yang ingin menjadi Gojek, saya memutuskan untuk diam berbulan-bulan. Sejujurnya, saya bisa saja melanjutkan serial postingan tersebut, karena hari demi hari ada hal-hal rahasia yang sudah mencuat kepada publik. Tak sedikit juga asumsi saya tentang aplikasi pemerintah terbukti benar. Karena sesuai hikmat Tekotok, di negeri kotok ini siapa yang mengkritik aplikasi pemerintah BAKAL DIANGKAT JADI DUTA APLIKASI PEMERINTAH!!!!!! Tapi keterlibatan saya dalam aplikasi pemerintah yang berikutnya ini justru membuat saya cukup sadar betapa salah arahnya pemerintah dalam berbagai hal. Ada yang baru saja menunjukkan RUU kepada saya bahwa Komisi Penyiaran Indonesia ingin mengawasi situs apapun yang menggunakan fitur live streaming (padahal kasus seperti ini seharusnya lebih cocok dalam pengawasan iklan video), konspirasi pemblokiran situs Bit.ly, pemblokiran layanan Statically (salah satu produk dari rekan sebangsa saya) dan sebagainya. Saya sudah lama jauh dari komunitas Rizky Salminen dan rekan-rekan, termasuk yang mengkritik pemerintah secara bertubi-tubi, dan yang memblokir saya di Twitter karena membuktikan meme “L+Ratio” telah terekam sejak era kitab Daniel pasal 5. Apapun itu, saya ingin mengirimkan pesan yang satu ini: [26] Saudara-saudara! Coba ingat bagaimana keadaanmu pada waktu Allah memanggil kalian. Cuma sedikit saja dari antaramu yang bijaksana, atau berkuasa, atau berkedudukan tinggi menurut pandangan manusia. [27] Sebab memang Allah sengaja memilih yang dianggap bodoh oleh dunia ini, supaya orang-orang pandai menjadi malu. Dan Allah memilih juga yang dianggap lemah oleh dunia ini, supaya orang-orang yang gagah perkasa menjadi malu. [28] Allah memilih yang dianggap rendah, hina, dan malah yang dianggap tidak berarti oleh dunia ini, supaya Allah menghancurkan yang dianggap penting oleh dunia. [29] Dengan demikian tidak seorang pun dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. 1 Korintus 1:26-29 BIMK Saya bukanlah Menteri Komunikasi dan Informatika yang sering anda hujat, namun orang-orang seperti saya- (dan juga Anda) -lah yang justru menjadi solusi bangsa, apalagi jika bangsa itu sangat bergantung kepada “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan melihat tren kebobrokan pejabat-pejabat pemerintah dalam 2 tahun terakhir, kepercayaan saya semakin kuat terhadap Daniel 5, yang membuat saya diblokir seseorang di Twitter. Kalau Anda benar-benar percaya bahwa Tuhan-lah yang memegang segala kuasa, Anda juga harus percaya bahwa Tuhan sanggup menghancurkan mereka yang korup, dan Tuhan akan menaikkan orang-orang yang tak layak secara hukum untuk memalukan mereka semua yang di atas. Mereka yang berpesta pora, dan yang memperalat Tuhan dan agama, semuanya akan ditangkap dan dihancurkan oleh Tuhan. Mene, Mene, Tekel, Ufarsin.

2024-05-01 14:01:47

Our guide to our unwritten REST API conventions.

An updated version of this may be available on our digital garden. Naming things is a difficult thing, according to many developers. But not for someone who graduated in an university that’s silently houses great REST API experts. I’m not joking. According to HackerRank in 2021, BINUS University entered the top charts for Asia-Pacific universities (outside of India) according to their technical skills. And how did the university became the top 2 in REST API design, right after Rajshashi University of Engineering and Technology? Source: HackerRank, 2021. 1. Use semantic REST naming scheme. I know, there’s no such a standard term for “semantic REST API” like how it did with HTML, but there’s also a reason why HTTP requests are divided into GET and POST, which then added by PUT, PATCH, DELETE, OPTIONS, and others. We commonly use nested model-centric path approach, where the REST endpoint paths should be named after the model. No, we don’t mean GET /api/get-embed-from-post, but as straightforward as GET /api/posts/embed. Using the /posts/ prefix signifies the endpoint belong to the posts model. The model name must be referenced in their plural form. We first encountered this model-centric approach in Laravel, where controllers (as in the Model-View-Controller / MVC structure) are mapped into an opinionated set of REST request verbs (e.g. GET, POST) and paths. Taking from Laravel’s own example, we decided to define a similar schema: VerbURIDescriptionGET/photosGet an index listing of photos. Get (all) current photos. Can also be potentially used to search for photos.POST/photosSubmit a new photo.GET/photos/{id}Show a specific photo by its (internal) ID.PUT/PATCH/photos/{id}Update the photo information.DELETE/photos/{id}Delete the photo. You may also notice that some endpoints are not listed here. They are commonly used to display the front-end instead of doing the back-end logic. For example, GET /photos/{id}/edit does not edit the actual photo. It only shows a webform to the user, whereas the PUT/PATCH /photos/{id} one does the actual logic. Note: There are some obscure HTTP request verbs listed in https://www.w3.org/Protocols/HTTP/Methods.html that we don’t use, such as CHECKIN, LINK, and TEXTSEARCH. These are rarely recognized in HTTP request and server libraries, so they may just add an additional burden for us and others to implement. 2. Use kebab-case for paths, snake_case for parameters. Another common practice that we used here is to use kebab-case for REST paths and snake_case for parameters, even though that those are defined in the JSON format (which commonly written in camelCase instead). Yes, we do represent data model types (i.e. the kind of data being represented in objects, structs, and database tables) in PascalCase, but when it became part of the REST request, we use the former ones. You can learn more about the differences between these four naming conventions in the FreeCodeCamp. The reason why we used such conventions is to tolerate case-sensitivity, so user do not have to use certain uppercase letters to refer to the right data model. Additionally, web services conventionally used the snake_case for request parameters, so we leave the convention as-is for compatibility purposes. 3. Every response data should correspond closely to the enquired model. Well, we said we’re grouping things based on its model, right? So there has to be a standard way to represent the model and its items for each model-related responses. And that’s what we actually did: always map every model across database, source codes, and input/output serialization. In database, this means the table columns. In the source code, this is most likely to be objects (as in OOP) or structs as a fallback. In data serialization, we can use common serialization objects including JSON and YAML. We still do prefer JSON for REST API responses. For example, creating a new item under the model should give a HTTP response containing the new model, instead of simply signalling that “the insertion is complete” or just the item IDs. Similarly, when updating an item or two, the response should include the updated model items. There might be some exceptions for this, such as when doing batch processing, we could reduce the unnecessary response data load by signifying the updated item IDs, including which one were unchanged or faulty. In his own thesis, Reinhart listed his data type mapping across MySQL, MariaDB, Dart, PHP to ensure that the app’s entity models are properly represented from the database to the backend and frontend. 4. Our standard REST response. { "status": "OK", "data": /* ... */ "warning": /* ... */ } { "status": "KO", "error": /* ... */ "data": /* ... */ } Our standard response is always written in JSON unless a different format is required, e.g. returning an Atom/RSS feed in XML. This response is heavily inspired by the simplistic DuckDNS API and other REST API designs. We commonly fill in the error parameter with error codes, which may vary from system to system. Some of the common ones include {{MODEL}}_NOT_FOUND accompanied with the HTTP 404 status code and perhaps some additional diagnostic data located under the data paraeter. But some systems which require further debugging may return the error message as-is from the related software libraries on that error parameter. 5. Do not afraid of using HTTP response codes. HTTP 200 { "statusCode": 404, "data": "Blog Post not found." } The enterprise developer who made this should go to the hell! Source: https://twitter.com/goenning/status/1782330200958615637 Don’t worry, angry developers. We are still using HTTP status codes responsibly! 6. Now, what if we really need an endpoint that does not really fit into the above conventions? We have an internal term for it: import/export endpoints. They are endpoints which processes a standard model representation from or to the non-standard ones, such as importing items from CSV, or outputting a list of posts in Atom/RSS format. These endpoints do not follow some of our path conventions, but still need to contained inside a model path, such as /posts/feed and /products/import. The expected input and output data formats can deviate from the standard ones, too. Some of our systems also have to deal with other REST API standards, such as utilizing the /.well-known/ path for things related to digital identity and website verification. Many also respect the classic /ping endpoint, which expects to return a plaintext response of pong, to check whether the server is still active. And lastly, we also have a dedicated endpoint group, name /test. Since our model names are plural, we do not really care if the name conflicts with the model Test, since the model will eventually be represented as /tests/. These endpoints are meant for utilities to help developers integrate to our systems, such as /test/access-token to check whether an access token is still valid, and /v4/test/ping (alongside /ping) to check whether the service supports the REST API Version 4 schema.

2024-04-26 00:32:20

GitHub: My robots are 2.5x as productive as I am.
Cover image for GitHub: My robots are 2.5x as productive as I am.

2024-04-23 00:00:00

Celebrating 10 years of not even finishing my personal website.
Cover image for Celebrating 10 years of not even finishing my personal website.

2024-04-12 12:31:36

Techbros.

Techbros are, for obvious reasons, not just all about iSheeps vs Samsung fanboys anymore. For example, a “cryptocurrency techbro” aka. “cryptobro” is enlightened with the advances of one or specific cryptocurrencies to the point that they forgot that the word “crypto” actually stands for “cryptography”. It’s a whole community of people enlightened with a specific technology that they mostly don’t own, as if they “owned” the technology, who also tries to enforce everyone else to use the same technology. Let’s start with, someone known to actually make large cash selling Notion templates made a poll whether people prefer to use Google Workspace over a bunch of niche tools that he personally use. We can partly see his intentions to offer alternatives to the “boring” Google set of productivity apps. Source: https://twitter.com/gf_256/status/1761471295613534664 The answer is somehow obvious: 65% of voters actually choose A over B. Considering the number of votes, this is embarrasing for the Arc-Superhuman-Notion community out there. Source: https://twitter.com/heyeaslo/status/1760655706733367356 The moral of the story? Has any self-proclaimed “techbro” done useful things to the outside community in the long term? 1. Techbros don't innovate at all. Yes, they're rapidly sharing tech innovations, but they're still don't innovate at all. Taking the case of AI, 99.99% (pun intended) of them don’t actually learn how to make one, the foundations of automata, maths, data collections, some legal policies, and so on. But 99.99% (also pun intended) of them are pledging to use them for a lifetime. The same also goes with the ones who praised Apple’s M1 chips. Yes, M1 is another innovation, but the only innovation these can actually give is to type these, 🤯🤯🤯 emojis over Twitter and now other platforms, too. /* Hey, at least 🤯 is now innovating against 🤣, 😭, and 💩, right? */ A dedicated Notion influencer like the above case proved to rake in as large as $239,000 selling Notion templates over Gumroad. But what happens if Notion ended their product? Sure, we have some alternatives including AppFlowy, but it’s important that many of these will less likely to incorporate all the things that made Notion, Notion. That’s why Google Sheets didn’t have the exact same set of supported functions compared to Microsoft Excel. Or Zoom having the same collaboration capabilities with Google Meet. But will Easlo continue to succeed in a post-Notion world? A quick LinkedIn search around the founder and the company clearly shows this guy’s first and only listed professional work experience is building Notion templates since the start of his career. No experience over Google, Unilever, KPMG, or others? Oh, no! I thought this company was founded while the founder was struggling inside the common office routine in Unilever, for example, to build the “second brain” on top of Notion.The gap between 2020 and 2023 could be his college years. So, at a glance, it might be the person who truly innovates in building templates and “second brains” for people. But is it? Isn’t that the original creators of the templates feature in Notion who actually innovate in productivity? 2. Many techbros today don’t bring any real, usable values to the community. They’re just selfish to make people do or buy what they want. “Hey, I recently convinced an entire village in South Africa to open up payments in #Bitcoin. One small step to open the global economy freedom to the country!” Yeah, that sounds good, especially if you’re the one introducing it to them before moving to Portugal then Japan and Australia as a digital nomad. But have you ever consider what would happen to them if they forgot their recovery phrase, or even worse, forgot what does these 32 English words you told them to write on paper and save it securely actually mean to them! Oh, no! There’s no such things as “forgot private key” in Web3 just like “forgot password” in Web 2.0! They will lose their access to the global economy as you envisioned! Have… anyone consider certain people who did these things as selfish? Because most techbros have the same ultimate goal: making more and more people to adopt the same and specific technology as they loved, endorsed, and enforced. 3. Techbros believe they are part of marketing. Actually, they're the target market. Source: https://twitter.com/SuperRabbitTank/status/1659559360370991111 This sounds like a win-win solution, though. They dedicate their lives for and only for consuming all the innovations the tech world is producing, and for companies who made, this is profitable. And this makes techbros no different than social clubs that commonly endorse certain luxury bags, clothes, or cars. Nothing’s different here, even the goal behind these clubs are also the same: Endorsing people to use certain brands, right? But at the same time, these cool social clubs also become the coolest preys of luxury brands. Whenever Louis Vuitton or Ferrari release a new product, it’s significantly easier for them to trick and target social clubs to buy more. So are techbros in the eye of OpenAI and many other tech companies today.

2024-04-11 23:34:10

Unveiling my next postgraduate study programme.
Cover image for Unveiling my next postgraduate study programme.

Reinhart Previano Koentjoro
Reinhart Previano Koentjoro
Citra Manggala Dirgantara
Citra Manggala Dirgantara

A Reinhart company

Products

Company