Important O-Week info: Our website is still undergoing major upgrades. Some of the contents here may be out-of-date.

Search

Reinhart Previano K.

Do you love to Ctrl-K, Ctrl-/, or / ? Now you can do three of them (>_ )!

No results so far...

Contact Information

Blog Posts


Perbaikan pada aplikasi AEP Mobile (4 Januari 2023)
Cover image for Perbaikan pada aplikasi AEP Mobile (4 Januari 2023)
Part 2 of our Christmas excitement.
Cover image for Part 2 of our Christmas excitement.
Merry Christmas and Happy New Year!
Cover image for Merry Christmas and Happy New Year!
Clarifying Go package names in TDLib's documentation.
Cover image for Clarifying Go package names in TDLib's documentation.
New color palettes!
Cover image for New color palettes!
Twitter's removing "Twitter for X" labels? Here's how it just made the platform worse.

Twitter for iPhone. Sounds like a social status and a nightmare for Android phone companies when accidentally tweeting from their iPhones. Well, that's until Elon decided to remove it because he thought it was a waste of space and compute. But we feel removing it just makes the platform worse, especially in terms of spam, automated engagement, and disinformation. How can you tell real vs. automated posts on Twitter? How do you tell a cyborg (real × bot) account? Real quick before the labels are deleted from our devices, I'd like to point out a recycled developer named Madza. You'll notice that his Tweets and Replies are full of recycled Twitter threads. Yeah, they're recycled as you, as a software developer, might already know some of his "interesting facts" even years before his thread. And it's definitely a red flag to see that he very rarely responds to thousands of incoming comments from people he "engaged" with, or should I say, just happen to be algorithmed by Twitter. From that little, "space-wasting" piece of information, we can already see that he always uses a third-party engagement platform named FeedHive. And of course, FeedHive denied our claims that people like him use FeedHive's amazing, AI-powered tools for raising their number of likes, comments, retweets, and followers. Hiding this info from the public just made the platform worse. Now we can't tell which Tweets were made by, for example, a ChatGPT AI instead of real humans. For security reasons... These labels are also a good way of identifying things like misinformation and possible cyber attacks happening on third-party apps. For example, a third-party app accidentally leaked their Twitter API keys, and all the users' Twitter Authorization Session keys, which can be exploited to promote things, such as scams and malvertising. Or in case you still don't understand: let's say that you've authorized a third-party app to Twitter, including posting on behalf of your account. These credentials are stored online and the app was suddenly hacked. In this case, we could help investigate whether things like this could occur, by scanning Tweets for the same info used to mock Android companies for using iPhones. Our plans. Even if stubborn Elon would not listen to our advice, we will still support the inclusion of this tag on many federated social platforms. Mastodon is one of the early adopters for this, and we'll proudly support the inclusion of the same feature in Misskey and Pleroma as well, for security purposes as well as promoting diversity and inclusion of Fediverse clients and apps.

2023: Apa Adanya.

Kamu adalah terang dunia, layaknya kota di atas bukit yang tak tersembunyikan. Entahlah, untuk apa kamu menyalakan cahaya di dalam ember yang tertutup? Lagipula, semua orang menaruh lampu di tempat yang benar, di atas, biar ada gunanya. Dan hukum ini juga berlaku di dunia maya. Di tengah-tengah orang yang: haus dan lapar akan penghasilan AdSense, selalu memposting hal yang baik dan jarang yang buruk agar dapat dilirik para rekruter di LinkedIn, mengadu nasib sebagai seorang vampir, warga kerajaan Atlantis, dan putra-putri rubah dan kucing, memberi rating bintang lima di Google Maps, TripAdvisor, dan Zomato agar dapat minuman gratis dari yang punya, berkepribadian ganda; yang asli dan yang maya, layaknya kittykat96 dan para æ di bawah kolong langit metaverse, memperdagangkan likes, comments, followers, dan bahkan centang biru, merasa takut dan mendapat rezeki di dalam kegelapan, di dalam balutan dinding-dinding bawang sambil menipu, merusak, dan menguasai gelapnya internet, serta yang merasa bahwa Google dan perusahaan serupa harus dibumihanguskan dengan teknologi blockchain. Setelah 4 1/2 tahun aku menutup dan mengaku diri sebagai seorang (>_ ), robot, Anak IT, superhero, dan sebagainya, aku memutuskan untuk menjadi orang yang apa adanya. https://youtu.be/Owmdy7bjIys Tidak ada yang akan kusembunyikan, meskipun dunia fana dan maya ini mengajarkan yang sebaliknya. Sebab ku tak dapat menjadi terang, jika ku tetap menutup-nutupi diriku sendiri. Bahkan pun jika ku berteduh di balik seorang OC, persona, æ, character sheet, hewan, VRM, Live2D, dan apapun itu juga. Ia malah akan menaruh lampu itu pada tempat lampu, supaya memberi terang kepada setiap orang di dalam rumah. Begitu juga terangmu harus bersinar di hadapan orang, supaya mereka melihat perbuatan-perbuatanmu yang baik, lalu memuji Bapamu di surga. Matius 5:15B-16 (BIMK) Aku tak membutuhkan sebuah identitas palsu yang dapat ku pakai setiap hari. Sudah jelas, apa yang ku butuhkan adalah tempat lampu yang ditempatkan di tempat yang tepat. Dan untuk diriku yang berubah ini, akan terus berubah, mengubah diriku yang selalu berubah ini bersama banyak orang yang ku kasihi.

It's time to turn Twitter into a Parler clone.
Cover image for It's time to turn Twitter into a Parler clone.
Mengkritik pemerintah (khususnya Kominfo).

Tak sedikit warganet yang mengkritik pasal-pasal penghinaan pemerintah pada rancangan KUHP yang baru saja diresmikan. Banyak orang yang akhirnya menyerah, pasrah, dan memprediksikan kebebasan masyarakat Indonesia akan dikekang layaknya Republik Rakyat Cina. Saya percaya akan ada banyak kekecewaan demi kekecewaan yang akan muncul, dan KUHP tak hanya menjadi satu-satunya alasan. Demikian pula dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang semakin membuat saya frustasi. Tak usah jauh-jauh ke masalah PSE dan proyek DNS Nasional, saya memutuskan untuk setop melaporkan website-website bermasalah ke dalam kanan Aduan Konten, karena para penyedia jasa web hosting lauh lebih cepat menonaktifkan website daripada tim Aduan Konten merubah status laporan saya dari laporan "baru" menjadi "sedang diproses". Di dalam era di mana mengkritik pemerintah sudah masuk ke dalam ranah pidana, saya percaya masyarakat tetap akan berkreasi dalam mengkritik pemerintah. Salah satu contoh yang bisa saya perankan adalah frasa "dengan terpaksa", misalnya "lagu wali kota ini bagus, karena kalau saya bilang ini jelek saya pasti digugat KUHP." Masih tidak ada ayat yang melarang masyarakat untuk mengkritik pemerintah dengan mengatakan hal-hal yang bagus dengan kata "terpaksa", apalagi kata-kata hujatan yang diekspektasikan pemerintah tidak terdapat dari tutur katanya. Dan saya, khususnya dalam masalah Kominfo ini, saya akan melawannya dengan membuktikannya. Sebagai contoh, mari kita mengkritik program Pandu Digital, karena mereka justru membuat masyarakat Indonesia semakin ketergantungan terhadap produk merek-merek dagang tertentu. Mereka akan terlatih untuk menggunakan Microsoft Powerpoint, misalnya, namun tidak terlatih untuk menggunakan piranti lunak apapun yang berhubungan dengan presentasi berbentuk slideshow, baik itu Google Slides, Keynote, Canva, LibreOffice Impress, Figma, dan bahkan software slideshow baru bikinan anak-anak bangsa. Dalam kasus-kasus ini saya percaya, peribahasa "tong kosong nyaring bunyinya" ini tetap akan berlaku baik di sisi pemerintah maupun pengkritik. Karena yang seharusnya dilakukan oleh pengkritik bukanlah dengan merekrut buzzer bayaran atau melakukan demo dari Senayan hingga Gambir. Yang seperlunya diperlukan adalah proses dan metode yang membuahkan hasil yang layak disebut sebagai alpha, alias keunggulan kompetitif dari solusi sang pengkritik. Dalam kasus ini, lebih baik saya membuat program pesaing Pandu Digital milik Kominfo yang diajarkan berdasarkan nilai-nilai yang dibuat secara solutif dari saya. Misalnya ujian-ujian khusus di mana para peserta dihadapkan dengan sistem komputer dengan konfigurasi yang berbeda-beda, seperti perangkat Linux dengan WPS Office dan web browser Falkon. Apapun konfigurasinya, mereka harus tetap dapat berurusan dan memanfaatkan komputer tersebut untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan untuk lulus ujian Cakap Bermedia Digital ala program saya. Alpha yang diperoleh di sini dapat diuji dengan penelitian akademis terhadap para peserta dari program Pandu Digital yang asli terhadap konfigurasi sistem komputer yang berbeda-beda. Akhir kata, cara-cara seperti inilah yang akan saya tempuh dalam mengkritik pemerintah dalam era seperti ini. Saya yakin cara-cara seperti ini lebih ampuh untuk memadamkan ego politik yang sering menjadi hambatan utama dalam memperbaiki bangsa. Toh Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi tetap tidak bakal disahkan ketika Bjorka tidak beraksi di Indonesia...


Reinhart Previano Koentjoro
Reinhart Previano Koentjoro
Citra Manggala Dirgantara
Citra Manggala Dirgantara

A Reinhart company

Products

Company